UN Jadi Alat Evaluasi KBM Setiap Sekolah

UN Jadi Alat Evaluasi KBM Setiap Sekolah

UN Jadi Alat Evaluasi KBM Setiap Sekolah

UN Jadi Alat Evaluasi KBM Setiap Sekolah

Setelah tidak lagi menjadi syarat kelulusan siswa, pelaksanaan Ujian Nasional

(UN) kini fokus pada fungsi pemetaan dan alat diagnosa ”penyakit” di setiap sekolah. Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Mochamad Abduh, mengatakan, UN bisa jadi penilaian yang baik dalam memberikan kontribusi terhadap pembelajaran. “Hasil UN bisa dijadikan penilaian untuk perbaikan pembelajaran,” ungkapnya saat diskusi bertema ”Pembelajaran Abad Milenial” di kantor Kemendikbud, Jakarta.

Kemendikbud, sambung Abduh, mulai menggunakan UN sebagai sarana strategi

pembelajaran siswa. Dari hasil UN, Kemendikbud bisa memetakan metode pembelajaran di setiap sekolah yang tidak serupa di setiap sekolahnya. ”Tidak bisa satu metode untuk semua kebutuhan sekolah,” ujarnya. Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) tahun lalu mengeluarkan rapor penilaian ke masing-masing Dinas Pendidikan di daerah. Rapor tersebut berupa statistik umum pencapaian hasil UN di wilayah masing-masing. ”Selain itu, kami juga buat diagnosanya untuk membantu provinsi, kabupaten, kota bahkan sampai level sekolah untuk memahami letak kekurangannya,” jelasnya.

Dinas Pendidikan (Disdik) setempat pun wajib mengevaluasi tanpa pengecualian,

baik sekolah negeri maupun swasta. ”Misalnya matematika, cakupan materinya aljabar, nanti sekolah yang kurang dalam aljabar ada dalam rapor. Tujuannya, membuat inspirasi bagi sekolah, dinas pendidikan kabupaten, kota dan provinsi untuk melakukan perbaikannya,” terangnya.

UN di SMP dan SMA saat ini, lanjut dia, sudah ada yang menggunakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Metode ini dinilai efektif meminimalisasi potensi kecurangan, baik yang dilakukan siswa maupun guru dan pengawas ujian. ”Kita mulai coba menggunakan UN dan betul-betul dimaksimalkan sebagai strategi untuk meningkatkan pembelajaran. Jadi, metode yang harus dilakukan setiap sekolah tidak bisa sama, tidak bisa satu metode untuk semua kebutuhan sekolah yang dihasilkan dari UN,” tutur Abduh

 

Sumber :

https://www.surveymonkey.com/r/SMFLZ2M