Perkembangan Spiritual Manusia dalam Persfektif Fowler

Perkembangan Spiritual Manusia dalam Persfektif FowlerPerkembangan Spiritual Manusia dalam Persfektif Fowler

Biografi Singkat Fowler

James Fowler lahir pada tanggal 12 Oktober 1940 daerah North Carolina, Amerika Serikat. Ayahnya adalah seorang direktur ekslkusif Methodist Summer Conference Center. Suasana iman yang mendalam di dalam keluarganya, khususnya berkat pengaruh sang ayah yang menjadi pendeta gereja Methodist, mendorong James untuk mengadakan refleksi teologis terhadap masalah-masalah iman. Ia merasa terpanggil menjadi pendeta. Dengan demikian, dia mengikuti jejak ayahnya.

James Fowler merupakan psikolog agama pertama kalinya dalam sejarah psikologi secara eksplisit dan sistematis mempelajari kepercayaan/iman. Dan mulai mengembangkan teori perkembangan kepercayaannya sejak tahun 1968-1969 ketika ia menjadi wakil pemimpin suatu pusat pembinaan agama dan kebudayaan di North California dan bekerja sebagai seorang pakar bimbingan dan konseling. Dia berupaya memhami bagaimana suatu kepercayaan berkembang secara berangsur-angsur menuju kepercayaan yang matang.

Teori Fowler adalah suatu teori yang menggambarkan tujuh tahap perkembangan kepercayaan eksistensial sebagai kejadian penting menentukan perjalanansetiap orang.Oleh karena itu, dia menjelaskan hubungan psikologi dengan teologi melalui teori tahap perkembangan iman.

  1.  Teori Pemikiran Fowler

Melalui pendekatan James Fowler terhadap Faith Development Theory (Teori perkembangan iman), dia menjelaskan bahwa Faith tidaklah identik dengan “agama” (religion). Faith merupakan kepercayaan eksistensial pribadi atau iman, dan merupakan usaha psikologis ilmiah untuk menguraikan dan menganalisis seluruh dinamika proses perkembangan tahap-tahap kepercayaan secara empiris dan teoritis. Sedangkan agama merupakan sebagai sebuah tradisi kumulatif tertentu yang bersifat historis, budaya dan kultus dimana suatu masyarakat tertentu melalui khazanah simbol, upacara, norma etis dan ekspresi estetis secara resmi. Dalam buku Rahmat Subagya kepercayaan terdiri dari unsur kebatinan, kerohanian, dan kejiwaan.  L. Orange menyatakan bahwa agama merupakan suatu filsafat karena berasal dari konspe manusia itu sendiri.  Oleh karena itu kepercayaan dan agama adalah hal yang berbeda. Sehingga menurut Fowler perbedaan ini merupakan hal yang sangat penting. Pendekatan perkembangan kepercayaan melalui beberapa tahap pendekatan diantaranya adalah:

  1. Tahap 1: kepercayaan elementer awal (Primal Faith) 0-2 tahun.

Tahap ini adalah tahap 0 atau pratahap (pre-stage yaitu masa orok, bayi 0-2 tahun) atau disebut juga dengan kepercayaan yang belum terindefikasi karena bayi belum mengenal dan merasakan lingkungannya. Dasar kepercayaannya, keberanian, harapan dan cinta belum dibedakan lewat proses pertumbuhan, melainkan masih saling tercampur satu sama lain dalam suatu keadaan kesatuan yang samara-samar. Pola kepercayaan ini disebut elementer, awal dan dasariah.Rasa kepercayaan elementer ini timbul dengan spontan yang bersifat pralinguistis (preverbal) sebelum munculnya kemampuan berbahasa yang terdapat di lingkungan sekitar dan yang setia merawatnya (orangtua terutama ibu).Sama halnya dengan pemahaman Erikson yang berpandangan bahwa masalah psikoanalisis dan pertumbuhan manusia berasal usul pada masa kanak-kanak, percaya dasariah diperoleh dari ibu.Si anak memperoleh kasih pertama kanak-kanak, percaya dasariah diperoleh dari ibu..karena ibulah yang menggunakan banyak waktunya untuk anaknya serta menyiraminya dengan kasih yang tulus. Anak disini membutuhkan kasih tanpa syarat sehingga butuh dikasihi sebagai pribadi yang unik.Oleh karena itu, epran yang paling utama disini adalah peran ibu.

Sumber: https://dosenpendidikan.id/