Peran Kepala Sekolah dalam Revitalisasi SMK

Peran Kepala Sekolah dalam Revitalisasi SMK

Peran Kepala Sekolah dalam Revitalisasi SMK

Peran Kepala Sekolah dalam Revitalisasi SMK

Untuk mensukseskan Revitalisasi SMK, perlu adanya peran berbagai pihak,

salah satunya adalah kepala sekolah. KepalaBidang Pendidikan Menengah Kejuruan (PMK), Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dodin R Nuryadin, mengatakan, salah satu revitalisasi SMK adalah mejalin kerjasama dengan Dunia Industri dan Dunia Usaha (DUDI). Di sini peran kepala sekolah diperlukan untuk menjali komunikasi diengan pihak DUDI.

“Dalam rangka revitalisasi, link and match dengan Dunia Industri dan Dunia Usaha merupakan hal yang penting. Setiap sekolah harus membangun mitra. Sekolah harus bisa berkomunikasi dengan industri,” ujar Dodin.

Selain berkomunikasi dengan DUDI, dalam buku Strategi Implementasi Revitalisasi SMK

: 10 Langkah Revitalisasi SMK, oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dijelaskan pula beberapa karakter yang harus dimiliki kepala sekolah.

Kuatnya karakter kepala sekolah dapat membawa manfaat yang luar biasa bagi SMK. Kepala sekolah dapat berperan sebagai motivator, inovator,organizing dan controling dalam pelaksanaan pembelajaran di SMK yang berbasis teaching factory. Kepala sekolah pun harus mampu menciptakan strategi atau kebijakan untuk membawa guru, karyawan, dan peserta didik memiliki karakter kuat, terampil, kreatif, inovatif, imajinatif, peka terhadap kearifan lokal sertatechnopreneurship.

Seorang kepala sekolah harus memiliki modal-modal sebagai berikut

, pertama modal intelektual (intellectual capital) dan sosial (social capital).Implementasi dari modal intelektual dan sosial dapat dilakukan melalui kegiatan seminar, workshop, dan lokakarya. Kedua adalah modal mental (soft capital). Revitalisasi sumber daya manusia dalam hal mental dilakukan melalui kegiatan keagamaan, pelatihan ‘social skill’, dan pelatihan inteligensi emotional.

Ketiga adalah modal agama (spiritual capital).  Upaya untuk mengembangkan keagamaan adalah bagian mutlak dan utama bagi tumbuhnya manusia yang makmur, sejahtera, aman, dan damai.***

 

Baca Juga :