Pengertian Land Improvrment Secara Lengkap

Pengertian Land Improvrment Secara Lengkap

Pengertian Land Improvrment Secara Lengkap

Pengertian Land Improvrment Secara Lengkap

Untuk menunjang pertumbuhan tanaman memerlukan perbandingan unsur hara makro dan mikro tertentu sesuai  dengan karakteristik masing-masing tanaman.  Penambhan unsur hara kedalam tanah melalui  pemupukan kimia untuk mengatasi kekurangan unsur hara dalam tanah merupakan  cara yang paling mudah.  Namum efesiensi dan efektivitas  pemupukan masih merupakan suatu Problem Solving,  Variasi karakteristik biogeofisik  tanah dan  genetik tanaman serta iklim wilayah sangat berpoengaruh terhadap tingat ketersedian hara dan serapan hara oleh tanaman.  Misalnya pH  tanah yang  rendah (nilai keasaman tanah tinggi)  seperti kebanyakan daerah lwilayah transmigrasi , membuat ketersedian hara seperti Fe (Besi), Mn (mangan) dan Al (aluminium) menjadi berlebih sehingga dapat meracun tanaman.  Demikian pula daerah yang beriklim kering,  atau tanahnya  berpasir,  ketersedian air sangat kurang sehingga  hara menjadi sukar  larut dan tidak tersedia bagi tanaman.

Untuk itu metoda Land Improvement merupakan salah satu metoda yang mulai banyak dikembangkan  guna merekllamsi lahan-lahan pertnian yang sudah tidak produktif.  Metoada ini diharapkan mapu mengatasi masalah-masalah seperti di atas  tetapi sekaligus juga meningkatkan mutu produksi  tanaman  serta keswadayaan biologis tanah.  Dalam metoda ini perbaikan tanah ditujukan untuk mengatasi semua faktor pembatas tanah yaitu meliputi faktor pembatas fisik, kimia dan biologi sehingga hasil dan mutu tanaman dapat meningkat.

TUJUAN

Teknik Land Improvement bertujuan ;

  1. Memperbaiki sifat kimia, fisik ddan biologi tanah, agar mampu dapat mendukung pertumbuhan tanaman dan merangsang berkembangnya mikroorganisme tanah.
  2. Menyediakan hara yang cukup dan berimbang bagi tanaman melalui pemberian pupuk organik dan anorganik.
  3. Meningkatkan produktifitas tanah melalui proses-proses biokimia, biofisik dan biologi secara lestari dan berkelanjutan.
  4. Menciptakan suatu sistem pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture) dan frofitable, sebagai ciri pertanian moderen.

B. BAHAN

Bahan-bahan yang dibutuhkan per 10 m2 :

1.         Kapur  2          Kg

2.         Pupuk kandang                       5          Kg

3.         Urea    340                  g

4.         T S P   250                  g

5.         KCl/KNO3/K2SO4      500                  g

6.         Jerami              10        Kg

7.         Air       200                  l

C. KEGUNAAN BAHAN

Kapur. Pemberian kapur bertujuan untuk meningkatkan pH tanah sekaligus menetralkan unsur-unsur yang dapat meracun tanaman seperti Fe, Al dan Mn.

Pemberian 1 ton kapur menaikan pH 1 angka pada kedalaman olah 20 cm sama dengan pemberian 2 ton kapur pada kedalaman olah 40 cm per 10.000 m2 areal.

Pengulangan pengapuran dilakukan 1 – 2  tahun kemudian. Pengapuran pertama (tahun I)  menggunakan kapur bakar. Pengapuran ke-dua (tahun II) sebaiknya menggunakan kapur dolomit (kaptan).

Kompos/pupuk kandung. Penambahan bahan organik (sekam dan kompos/pupuk kandang) bertujuan memperbaiki sifat kimia tanah melalui peningkatan proses ionisasi dan meningkatkan kandungan unsur hara tanah. Proses ionisasi dapat meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah sehingga tanaman dapat mengambil makanan dari tanah.

Selain untuk menambah unsur hara, pemberian bahan organik juga akan memperbaiki sifat fisik tanah melalui pembentukan agregat tanah, terutama struktur dan tekstur tanah sehingga dapat memperbaiki aerasi tanah dan meningkatkan kapasitas menahan air.

Pemberian kompos/pupuk kandang juga berfungsi sebagai inokulum mikroorganisme penyubur tanah sehingga akan memperbaiki sifat biologi tanah. Semakin banyak pupuk organik diberikan kepada tanah, makin banyak pula area yang perlu ditambahkan. Ini menyangkut aktivitas bakteri pelapuk yang sering bersaing dengan tanaman dalam memperoleh energi.

Urea, TSP dan KCl. Pemberian urea, TSP dan KCl bertujuan untuk meningkatkan kandungan unsur hara dalam tanah.

Peranan unsur N (Urea) pada perlakuan ini memiliki peranan yang khas, karena selain sebagai suplai makanan bagi tanaman, N juga berperan sebagai sumber energi untuk aktivitas bakteri pengurai pada proses penghancuran bahan organik. Jika tidak dilakukan  penambahan  N yang cukup, maka akan terjadi kompetisi antara tanaman dan bakteri pengurai dalam menggunakan unsur N. Dalam hal ini, bakteri pengurai mempunyai sistem yang lebih baik dalam menambat N dibanding tanaman.

Pupuk TSP sebagai sumber unsur P (dan kapu) dalam tanah relatif tidak bergerak, maka sebaiknya diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah.

Sumber unsur K yang baik adalah K2SO4 atau KNO3 (paling baik KNO3), tetapi agak sulit ditemukan di pasaran. Jika menggunakan KCl, sebaiknya diberikan sebulan sebelum tanam, sehingga ada interval waktu agar Clorin-nya sudah menguap pada saat ditanami.

Jerami (rice straw). Penggunaan mulsa jerami berperan untuk mengurangi evaporasi, mencegah erosi, menjaga temperatur tanah danjuga sebagai sumber bahan organik setelah mengalami pelapukan.

D. CARA KERJA

  1. Penyiraman tanah, ditujukan untuk memudahkan pengolahan tanah (jika pengolahan tanah dilakukan pada musim kemarau)
  2. Pengolahan tanah I sedalam 40 cm, dilanjutkan dengan pemberian setengah bagian dari bahan-bahan (kapur, sekam, Urea, TSP dan KCl) dengan ditebar secara merata dari arah kiri ke kanan bedengan. Kemudian dicampur/diaduk sampai merata dengan cangkul. Hasil pencampuran yang lebih baik dapat dicapai jika menggunakan Hand Tractor.
  3. Pengolahan tanah II sedalam 20 cm , dilanjutkan dengan pemberian setengah sisa  bahan-bahan dengan ditebar secara merata dari arah kanan ke kiri bedengan. Kemudian dilakukan pencampuran lagi.
  4. Pembuatan bedengan dan saluran irigasi
  5. Bedengan ditutup jerami, lalu ditaburi sekam secara merata dan ditutup jerami lagi. Ketebatan ± 20 cm.
  6. Lahan didiamkan dahulu selama 2 minggu dan dilakukan penyiraman 2 kali sehati. Jumlah kebutuhan air penyiraman  ±20 – 25 l/m2/minggu.
  7. Penanaman dilakukan dengan cara menyibak mulsa pada daerah lubang tanam dan diberikan pupuk TSP sebanyak 5 g pada jarak 5 cm dari tanaman dengan kedalaman ± 10 cm, kemudian mulsa dirapatkan kembali.
  8. Jika penaman dilakukan 2 – 3 kali dalam setahun, harus diberikan penambahan pupuk Urea, TSP dan KCl sebanyak 10% lagi. TSP diberikan pada saat sebelum tanam, sedangkan Urea dan KCl/KNO3/K2/SO4dilarutkan dalam air dengan dosis 1 – 2 g/25 l air/m2/minggu.

KEUNTUNGAN METODELANDIMPROVEMENT

  1. Menetralkan unsur-unsur yang dapat meracun tanaman seperti Fe, Al dan Mn melalui peningkatan pH tanah (memperbaiki sifat kimia tanah).
  2. Meningkatkan daya dukung  kesuburan tanah dengan adanya penambahan unsur hara makro ke dalam tanah.
  3. Memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah.
  4. Efisienasi dalam penggunaan air. Mulsa jerami dapat mengurangi evaporasi.
  5. Efisiensi dalam pengolahan tanah (sekali setahun). Apabila penanaman dilakukan 2 – 3 kali dalam setahun, penanaman ke-2 dan ke-3 tanpa pengolahan tanah (zero tillage).
  6. Menekan pertumbuhan gulma.

Baca Artikel Lainnya: