PENGERTIAN HADITS

PENGERTIAN HADITS

PENGERTIAN HADITSPengertian Hadits secara etimologis (bahasa)

Kata ‘hadits’ berasal dari bahasa Arab, yaitu al-hadits, jamaknya al-hadits, al-haditsan dan al-hudtsan.

                Kata ini memiliki banyak arti, di antaranya al-jadid (yang baru) lawan dari al-qadim (yang lama), dan al-Khabar, yang berarti kabar atau berita. (Ibnu Manzhur)

  1. M. Azami mendefinisikan bahwa kata ‘hadits’ (Arab: al-hadits), secara etimologi (lughawiyah), berarti ‘komunikasi’, ‘percakapan’; religius atau sekular, historis atau kontemporer.

Dalam Al-Qur’an, kata hadist ini digunakan sebanyak 23 kali. Berikut ini beberapa contohnya :

  1. Komunikasi religius : risalah atau Al-Qur’an

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًابًا………

Artinya : Allah Telah menurunkan secara bertahap hadis (risalah) yang paling baik dalam bentuk kitab. (Q.S. Az-Zumar ayat 23)

فَذَرْنِي وَمَن يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ……….

……….

Artinya : “Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan Ini (Al Quran) ini”. (Q.S. Al-Qalam ayat 44)

  1. Kisah tentang watak sekular atau umum

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ

 

 

Artinya : “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, Maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan hadis (perkataan) yang lain….” (Al-An’am ayat 68)

  1. Kisah historis

وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى

……….

وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَىٰ……….

Artinya : “Apakah Telah sampai kepadamu hadis (kisah ) Musa?” (QS. Taha ayat 9)

  1. Kisah kontemporer atau percakapan

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا –

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا

Artinya : “ketika nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya suatu  hadis (kisah)” (Q.S. At-Tahrim ayat 3)

Pengertian Hadist secara terminologis

Secara terminologis, para ulama, baik  muhaditsin, fuqaha, ataupun ulama ushul, merumuskan pengertian hadits secara berbeda-beda. Perbedaan pandangan tersebut lebih disebabkan oleh terbatas dan luasnya objek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan pada aliran ilmu yang didalaminya.

Ulama hadits mendefinisikan hadits sebagai berikut :

كُلُّ مَا أُ ُثِرَعَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مِنْ قَوْلٍ أَوْفِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ أَوْصِفَةٍ خَلْقِيَّةٍ أَوْخُلُقِيَّةٍ.

“Segala sesuatu yang diberitakan dari Nabi SAW., baik berupa sabda, perbuatan, taqrir, sifat-sifat maupun hal ihwal Nabi.”

Pengertian hadits secara  terbatas,sebagaimana yang dikemukakan oleh jumhur Al-Muhaditsin, adalah:

مَاأُضِيْفَ إِلَئ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَوْلًأ آَوْنَحْوَهَا

”Sesutu yang dinisbahkan kepada Nabi Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataann(taqrir) dan sebagainya”.

Pengertian hadis secara luas, sebagaimana dikatakan Muhammad Mahfudz at-Tarmidiz,  adalah :

إِنَّ الْحَدِيْثَ لاَيُخْتَصُّ بِالْمَرْفُوْعِ إِلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ بَلْ جَاءَ بِاءِطْلاَ قِهِ أَيْضًا لِلْمَوْقُوْفِ (وَهُوَمَاأُضِيْفَ إِلَى الصَّحَابِيِّ        مِنْ قَوْلٍ أَوْنَحْوِهِ)وَالْمَقْطُوْعِ(وَهُوَمَاأُضِيْفَ إِلَى لِلتَّابِعِى كَذَلِكَ)

“Sesungguhnya hadis bukan hanya yang dimarfukan kepada Nabi Muhammad SAW, melainkan dapat pula disebutkan pada yang mauquf (dinisbatkan pada perkataan dan sebagainya dari sahabat) dan maqthu” (dinisbatkan pada perkataan dan sebagainya dari sahabat)”

Contoh Hadits Qouliyah (Ucapan)

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ (رواه البخارى ومسلم

“Segala amalan itu mengikuti niat (orang yang meniatkan)”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Seluruh ulama hadits telah sepakat dan ikut meriwayatkannya

Contoh Hadits Fi’liyah (Perbuatan)

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ اُصَلِّيْ (رواه البخارى ومسلم عن مالك

“Bershalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku bershalat”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari Malik ibn Huwairits)

خُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ (رواه مسلم عن جابر

“ambilah dariku cara-cara mengerjakan haji”. (HR. Muslim dari Jabir)

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ اُصَلِّيْ (رواه البخارى ومسلم عن مالك

“Bershalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku bershalat”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari Malik ibn Huwairits)

خُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ (رواه مسلم عن جابر

“ambilah dariku cara-cara mengerjakan haji”. (HR. Muslim dari Jabir)

Contoh Hadits Taqriri (Penetapan)

Diriwatkan oleh Al-Bukhari dan Imam Muslim bahwa sahabat Khalid bin Walid memakan dhab (sejenis biawak) yang kemudian dihidangkan kepada Nabi saw, akan tetapi Nabi enggan untuk memakannya. Lalu sebagian sahabat (Khalid) bertanya: “Apakah kita diharamkan makan dhab, wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab :

Sumber: https://dosenpendidikan.id/