Kriteria Penilaian Proposal Penelitian Kuantitatif

Kriteria Penilaian Proposal Penelitian Kuantitatif

 

Kriteria Penilaian Proposal Penelitian Kuantitatif

Menyusun proposal (rencana) penelitian dapat diibaratkan seperti membuat suatu barang untuk dijual. Artinya, laku atau tidaknya barang tersebut sangat tergantung kepada mutu barang itu dan kelihaian kita dalam menawarkan barang tersebut. Apalagi kalau barang tersebut merupakan hal baru dan yang dibutuhkan oleh masyarakat, konsumen tentu akan tertarik untuk membelinya. Bahwa hanya rencana penelitian yang bermutu ilmiah dan mempunyai kegunaan tinggilah yang akan diterima oleh masyarakat ilmiah. Apalagi bila rencana penelitian itu dapat menjanjikan hasil penemuan baru yang sangat berguna, baik ditinjau dari segi kepentingan praktis maupun dari aspek ilmu pengetahuan.

Cara penawaran

Cara penawaran yang menarik juga sangat penting. Dalam arti, bahwa si pembuat rencana penelitian harus dapat meyakinkan pihak yang akan menyetujui rencana penelitian tersebut. Untuk itu dibutuhkan penguasaan ilmu yang memadai, tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Kekecewaan karena rencana penelitiannya ditolak, sering dialami peneliti yang mem buat rencana penelitiannya secara terburu-buru. Penolakan ini biasanya bersumber pada penguasaan materi yang kurang mendalam, karena si peneliti kurang banyak membaca. Berbagai komentar yang muncul , misalnya : penelitian sudah pernah diteliti orang, kurang ada manfaatnya, kurang bobot ilmiahnya, dan penelitian bersifat mencoba-coba saja.

Dalam hal seperti ini kegemaran membaca pustaka ilmiah, terutama yang memuat hasil-hasil penelitian seperti : journal, bulletin dan laporan-laporan hasil penelitian yang lain, merupakan kegiatan yang mutlak diperlukan bagi seorang peneliti. Lazimnya sebuah rencana penelitian terdiri dari bab- bab : Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Perumusan Hipotesis, Metode Penelitian. Bagian lainnya seperti: Halaman judul penelitian, Halaman persetujuan, Kata Pengantar, Daftar Pustaka dan Lampiran. Bab Pendahuluan Bab ini biasanya terdiri dari : Latar Belakang Perumusan permasalahan, Tujuan Penelitian. Prinsip singkat tetapi jelas berlaku di sini. Singkat, artinya janganlah menulis hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Jelas, dalam arti jangan sampai terlewatkan hal-hal yang seharusnya ditulis guna kejelasan dari tulisan itu sendiri. Formulasi permasalahan Penelitian berpangkal dari suatu pertanyaan dari suatu permasalahan yang muncul dari benak peneliti karena “ketidak-tahuan” mengenai suatu fenomena atau gejala.

Contohnya

Misalnya: Apa yang menyebabkan meningkatnya kriminalitas / kenakalan remaja ? Mengapa produksi pertanian (dapat juga menyebut salah satu komoditi, misalnya harga gula) tidak mampu bersaing di pasaran dunia? Jawabannya dapat bersifat teknik, sosial atau ekonomis. Stimuli penelitian dapat datang dari berbegai sumber: pengamatan, bacaan baik dari buku ataupun sumber-sumber lain misalnya pertemuan ilmiah. Stimuli penelitian di perguruan tinggi juga dapat juga berasal dari pesanan dari pembuat kebijaksanaan (policy makers) mengenai suatu permasalahan tertentu yang dihadapi mereka. Seorang mahasiswa yg memulai penelitiannya seringkali menyatakan permasalahan penelitian dengan mengemukakan judul penelitian. Ketika ditanya apa permasalahan penelitian, seringkali tidak dapat menyatakan permasalahan penelitian. Permasalahan penelitian merupakan justifikasi / alasan mengapa penelitian tertentu perlu dilakukan. Justifikasi tergantung pada pentingnya permasalahan, sedangkan pentingnya permasalahan dapat ditinjau dari pelbagai aspek. Problematik penelitian hendaknya juga mencakup bukan hanya “What” tetapi juga dapat mencakup “whom”, “where”, and “when”.

Pertanyaan atau permasalahan penelitian

Pertanyaan atau permasalahan penelitian yang lebih spesifik akan lebih baik karena dapat mengarahkan kegiatan peneltian yang lebih spesifik pula. Mengapa seringkali sulit dalam formulasi permasalahan ? Hal ini dapat terjadi karena kurang menguasai permasalahan dalam bidang itu, atau kekurangan membaca literatur yang sudah ada, disamping pengalaman yang belum cukup dalam bidang penelitian. Masalah penelitian dapat diperoleh dari dua sumber: dari teori yang sudah ada (ekperimen) dan dari lapangan (survey, pengumpulan data di lapangan setelah dianalisa dan diinterpretasikan harus dikaitkan dengan teori). Untuk memformulasikan permasalahan seringkali lebih mudah untuk berfikir perbedaan antara “what is” (apa yang terjadi) dan “what should be” (apa yang seharusnya terjadi). Permasalahan penelitian yang baik harus memenuhi beberapa syarat: relevan dengan waktu timbulnya permasalahan, berhubungan dengan problematik praktis, dapat mengisi “research gap”, memungkinkan genelarisasi, memiliki ketajaman dalam definisi / pembatasan dari konsep-konsep utama, dapat memerbaiki metoda penelitian bagi peneliti berikutnya.

 

Arikel Terkait :