Ketika robot menggantikan peran manusia untuk memilih saat pemilu

Ketika robot menggantikan peran manusia untuk memilih saat pemilu

Ketika robot menggantikan peran manusia untuk memilih saat pemilu

Dari daftar putar lagu sampai prospek jodoh, kita semakin dibuat

nyaman oleh algoritma yang membuatkan keputusan-keputusan itu untuk kita. Lantas, kenapa tidak sekalian saja mereka mewakili kita untuk memilih dalam pemilu?

Bayangkan Anda berdiri di bilik suara dengan kertas suara terlipat di tangan Anda. Puluhan nama tercetak di dalamnya. Banyak di antara nama itu yang tidak Anda kenali. Akan tetapi, satu coblosan pada salah satu nama itu akan menentukan pemerintahan seperti apa yang memimpin Anda bertahun-tahun ke depan. Lantas, bagaimana cara Anda memilih kandidat yang tepat?

Itu adalah teka-teki yang dihadapi banyak pemilih di negara demokrasi

di seluruh dunia, seperti Indonesia.

Biasanya, keputusan itu diambil berdasarkan kesetiaan terhadap partai pilihan, satu-dua kebijakan si kandidat yang berkesan, dan siapa yang kira-kira akan dipilih oleh keluarga dan teman-teman Anda sendiri.

Yang juga membuat para politikus ‘buta’, yaitu pilihan warga yang bisa benar-benar tidak jelas, mungkin karena suka pada potongan rambut si kandidat, seberapa menariknya penampilan mereka, berita yang baru mereka baca, atau mereka yang memilih dengan tujuan untuk “mengirimkan pesan” kepada penguasa.

Menentukan pilihan di bilik suara memerlukan usaha yang besar

– membaca profil masing-masing kandidat, menimbang kepatutan mereka satu per satu. Kebanyakan orang tidak punya banyak waktu untuk melakukannya.

Pemilih di negara demokrasi terbesar dunia, India, misalnya, harus memilih satu dari 8.039 kandidat yang berasal dari 650 partai se-India dalam delapan fase pemilu.

 

sumber :

https://merpati.co.id/seva-mobil-bekas/