Kepercayaan intuitif- Proyektif

Kepercayaan intuitif- ProyektifKepercayaan intuitif- Proyektif

Daya imajinasi dan dunia gambaran sangat berkembang.Tetapi pada tahap ini, anak belum memiliki kemampuan operasi logis yang mantap, sehingga daya imajinasi berkembang secara bebas.Daya imajinasi dirangsang oelh cerita, gerak, isyarat, upacara, dimbol dan kata-kata.Semua ini diperhatikan oleh anak-anak dengan sungguh-sungguh.Sehingga kemampuan dan minat anak terhadap misteri yang suci diarahkan da dibina persepsinya mengenai pandangan dan keyakinan religious orang dewasa.Dunia gambaran dan imajinasi ini menguasai seluruh hidup afektif dan kognitif yang mendasari pola kepercayaan si anak.Tahap pertama yang praverbal diakhiri dengan timbulnya kesanggupan berbahasa kira-kira pada umur 2 tahun, walaupun pembendaharaan kata-kata masih terbatas.Oleh karena itu, eprlu pembimbingan dari orang dewasa yang berada di dekatnya.

Allah digambarkan menurut alam fantasi pra-antromorf. Artinya, anak mencoba menerapkan berbagai ide seperti yang tidak kelihatan seperti roh, angina, udara, dan lain sebagainya untuk menggambarkan Allah yang mempengaruhi dunia secara fisik dan substansial. Namun, biarpun Allah dilukiskan secara pra-antromorf (misalnya Allah bagaikan udara, Dia ada dimana-mana, anak juga memahami Allah sebagai suatu pribadi. Misalnya: saya mencintai-Nya sehingga Pribadi Allah digambarkan menurut aspek-aspek fisik. Misalnya: Allah berpakaian putih. Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa anak memahami Allah melalui campuran antara gambaran antromorf dan pra-antromorf.

Kepercayaan Mistis Harafiah (6-11 tahun)

Masa ini adalah masa usia sekolah. Pada tahap ini gambaranm emosional dan imajinasi masih berpengaruh kuat.Namun muncul operasi-operasi logis baru yang melampaui tingkat perasaan dan imajinasi dari tahap sebelumnya.Bentuk berpikir yang agak episodis dan intuitif (tahap ke II pun ditinggalkan). Anak belajar melepaskan diri dari egosentrisnya mulai dengan membedakan perspektif dirinya dengan orang lain. berkat gaya logikanya yang baru dan pengambilan perspektif orang lain tersebut, maka anak sanggup memandang religiusnya dengan tolok ukur logikanya sendiri. Tetapi pada tingkat moral, anak belum mampu menyusun dunia bati atau interioritas yaitu seluruh perasaan, sikap dan prosess penuntun batiniah yang dimilikinya sendiri. Pandangan moralnya  menuntut bahwa yang baik harus dihadiahi dan yang jahat harus dihukum. Seringkali anak menyusun gambaran menegnai lingkungan yang ultimo atau Allah seturut analogi seorang penguasa dan orangutan yang selalu bersikap memelihara, terutama bersikap adil dan jujur.

Semua tokoh dan pelaku yang memainkan peran dalam cerita selalu dilukiskan Allah secara antromorf.Penggambaran yang bercorak antromorf ini diproyeksikan kepada Allah yang diapndang sebagai Raja pembuat undang-undang yang pertimbangan moralnya didasarkan pada sikap fairness (kejujuran, keadilan, kewajaran).Aspek yang paling penting pada tahap ini adalah bahwa anak dapat menyusun dan mengartikan dunia pengalamannya melalui cerita rakyat dan hikayat. Bahan naratif tersebut menjadi medium yang paling digemari menciptakan dan mendapatkan arti. Namun, anak menangkap dan menafsirkan seluruh cerita, simbol, pendapat, dan keyakinan kepercayaan orang lain serta kelompok-kelompoknya masih terbatas, sebab anak masih memahami semuanya itu secara harfiah, konkret, dan mampu berpikir secara induktif sehingga pantas disebut sebagai seorang yang empiris. Berbeda dengan anak intuitif-proyektif yang mencampurkan fakta, fantasi dan perasaan, sedangkan tahap ini yaitu mistis- harfiah berusaha keras dan efektif untuk memisahkan yang real dari seolah-olah yang nyata.Tahap ini juga mampu menuangkan pengalamannya dalam bentuk cerita.

Kepercayaan Sintesis-Konvensional (masa adoselen umur 12- masa dewasa).

Tahap ini muncul pada masa adoselen (umur 12-20 tahun).Sekitar umur 12 tahun, remaja biasanya mengalami suatu perubahan radikal dalam caranya sendiri memberi arti.Erikson menyatakan bahwa pokok pada masa remaja adalah antara identitas dan ekkacauan peran. Krisis identitas tercipta oleh runtuhnya dunia kanak-kanak. Pencapaian identitas itu terjadi di tengah-tengah krisis yang hebat. Karena munculnyaoperasi-operasi logis, remaja sanggup merefleksikan secara kritis riwayat hidupnya dan menggali arti sejarah hidupnya bagi dirinya sendiri. Upaya menciptakan operasi-operasi formal ini makna baru (sintesis) menyebabkan remaja sangat tertarik pada ideologi dan agama.Agamalah yang menciptakan kerangka makna eksistensial yang terdalam dan terakhir. Remaja berjuang menciptakan suatu sintesis dari berbagai keyakinan dan nilai religius yang dapat mendukung proses pembentukan identitas diri dan memungkinkan munculnya rasa kesetiakawanan, kesetiaan dan kepercayaan kepada orang lain. pola kepercayaan ini disebut dengan Fowler dengan konvensional. Tetapi pembentukan identitas diri ini disebut Fowler dengan konvensional.Tetapi pembentukan identitas diri ini, menjadi krisis yang paling utama pada tahap kepercayaan sintesis-konvensional. Tetapi pembentukan identitas diri ini, menjadi krisis yang paling utama pada tahap kepercayaan sintesis-konvensional karena remaja akan bingung dan sulit menemukan jati dirinya karena gambaran-gambaran dari luar disatukan dengan dirinya dengan gambaran yang heterogen, baik itu dari masyarakat, keluarga, sahabat (psikososial).

Sumber: https://gurupendidikan.org/