Kepercayaan individuatif-Reflektif

Kepercayaan individuatif-ReflektifKepercayaan individuatif-Reflektif (masa dewasa awal dan sesudahnya, umur 18 tahun dan seetrusnya)

Paling cepat berumur 18 tahun, atau biasanya pada umur sekitar 20 tahun, seklai lagi mengalami perubahan yang mendalam dan menyeluruh dalam hidupnya. Tahap ini ditandai dengan lahirnya refleksi kritis atas seluruh pendapat, keyakinan dan nilai agama yang lama.pribadi sudah mampu melihat sendiri dan orang lain sebagai bagian dari sistem kemasyarakatan, tetapi bahwa dia sendirilah yang memikul tanggungjawab atas peentuan pilihan ideologis dan gaya hidup yang membuka jalan baginya untuk mengikatkan diri dengan cara menunjukkan kesetiaan pada seluruh hubungan dan panggilan tugas. Pada tahap ini orang dewasa muda sangat tanggap dan peka terhadap macam pemimpin ideologis dan kharismatis yang pastinya membutuhkan kebenaran logis sehingga pada tahap ini diperlukan pempimbing yang cerdas untuk menerapkan kebenaran dengan kehidupan yang nyata dalam pelayanan yang mereka lakukan sesuai dengan bakat mereka untuk melayani Tuhan.

Kepercayaan pada tahap ini disebut dengan “individuatif” karena baru saat inilah pertama kalinya dalam refleksi diri tidak semata-mata bergantung pada orang lain. Pribadi mengalami diri autentik dan mandiri.Tahap ini juga sudah bersikap kritis terhadap simbol.Simbol tidak lagi dianggap identik dengan yang sakral, tetapi memahaminya secara rasional.

Kepercayaan Eksistensial Konjungtif (usia setengah dan selanjunya umur minimum  sekitar 35-40 tahun)

            Ini timbul pada usia pertengahan (sekitar 35 tahun keatas). Semua yang diupayakan di bawah kuasa kesadaran dan pengotrolan rasio pada tahap sebelumnya kini ditinjau kembali.  Batas-batas sitem pandangan hidup dan identitas diri yang jelas, kaku, dan tertutup kini menjadi luntur dan kembali samara-samar.Tahap ini ditandai oleh suatu keterbukaan dan perhatian baru terhadap adanya polaritas, ketegangan, paradoks, dan ambiguitas dalam kodrat kebenaran diri dan hidupnya. Kini perhatian utama ditujukan upaya mmebuat hidupnya menjadi lebih utuh, menggabungkan kembali daya rasio dengan sumber ketidaksadarannya dan melampaui egosentrismenya yang tertutup menuju perngabdian diri yang lebih radikal pada kepentingan orang lain. ia menjadi lebih peka terhadap fakta bahwa hidup lebih merupakan anugerah pemberian daripada hasil upaya rasional. Tahap ini menyadari bahwa semua kehidupan yang dialaminya dan merupakan anugerah bukan dari kekuatan hasil usaha, kerja keras yang dimilikinya selama ini, melainkan suatu anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

            Pada tahap ini juga sang pribadi mencapai tingkat kepolosan kedua yang meresapi rasa tanggap baru terhadap segala arti simbol, bahasa, kiasan, cerita, mitos, methapor dianggap sebagai saarna untuk memahami kebenaran. Segala simbol dan upacara dipandang sebagai jalan perantara sah yang mampu mengangakt hati manusia kepada yang Ultim dan Allah dihayati sebagai wujud yang sungguh-sunguh pribadi.

Kepercayaan yang mengacu pada universalitas (usia pertengahan dan selanjutnya, sekitar 45 tahun).

Kepercayaan ini mengacu pada universalitas sebenarnya jarang terjadi, dan jika terjadi umumnya berkembang sesudah  umur 30 tahun atau berkembang pada umur 45 tahun keatas. Pribadi melampaui tingkat paradoks dan polaritas karena gaya hidupnya langsung berakar pada kesatuan Yang Ultim, yaitu pusat nilai, kekuasaan dan keterlibatan yang terdalam. Identifikasi dan partisipasi yang hidup mungkin karena pribadi berhasil mengosongkan diri (kenosis) dan memandang bahwa ego adalah pusat, titik acuan, dan tolak ukur kehidupan yang mutlak. Karena partisipasi Yang Ultim, sumber satu-satunya dari segala nilai, kognisi etis, keterlibatan dan tanggubgjawab, perasaan, epmikiran dan pandangan religius biasa, semuanya itu hendak diubah melalui perspektif universalitas (yang tidak lain adalah perspektif transenden Allah).

Gaya hidup diliputi semangat cinta inklusif dan universal terhadap segala gejala hidup dan makhluk hidup. Oleh karena itu, perjuangan akan kebenaran, keadilan, kesatuan sejati berdasarkan cinta universal ini menyerupai daya dan dinamika Kerajaan Allah. Pribadi yang berada dalam kepercayaan eksistensial universal ini seolah-olah mata, tangan, dan mulut yang mewujudkan cinta dan perspektif abadi dari Yang Transenden (Allah). Dalam kerangka, pribadi semacam ini disebut orang kudus atau saleh dan nabi.