Etimologi Prasasti

Etimologi Prasasti

Etimologi Prasasti

Kata prasasti berasal dari Sanskerta, arti sebenarnya adalah “pujian”. Tapi kemudian dianggap sebagai “piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang atau tulisan”. Di antara arkeolog disebut prasasti prasasti, sementara di kalangan awam disebut batu bertulis atau batu bertulis.


Meskipun itu berarti “pujian”, tidak semua prasasti memuat pujian (raja). Sebagian besar prasasti yang dikenal untuk membuat keputusan tentang pembentukan daerah pedesaan atau daerah menjadi sima atau perdikan. Sima diberi tanah oleh raja atau penguasa kepada orang-orang yang dianggap berjasa. Karena keberadaan tanah yang dilindungi oleh sima kerajaan.


Isi Prasasti

  • Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun,
  • diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana.
  • di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata
  • pun ya nu nyusuk na pakwan.
  • diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang.
  • ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi.

Terjemahan

Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut.

  • Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum
  • Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana,
  • dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
  • Dialah yang membuat parit (pertahanan)
  • Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang.
  • Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untukhutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka “Panca Pandawa Mengemban Bumi

Bentuk lain prasasti keputusan pengadilan pada kasus perdata (disebut prasasti jayapatra atau jayasong), sebagai tanda kemenangan (jayacikna), sekitar utang (suddhapatra), dan sekitar kutukan atau sumpah. Prasasti pada kutukan atau bersumpah hampir semua ditulis selama kekaisaran Sriwijaya. Dan tulisan unisex berisi tentang silsilah raja atau asal karakter.


Sampai saat ini prasasti tertua di Indonesia yang diidentifikasi berasal dari abad ke-5 Masehi, prasasti Yupa dari kerajaan Kutai, Kalimantan Timur. Prasasti itu berisi hubungan silsilah pada masa pemerintahan Mulawarman. Prasasti Yupa adalah prasasti batu yang ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.


Kebanyakan periode pengeluaran prasasti terjadi pada abad ke-8 ke-14. Pada saat itu script yang banyak digunakan adalah Palawa, Prenagari, Sansekerta, Jawa Kuno, Melayu Kuna, Kuna Sunda dan Bali Kuna. Bahasa yang digunakan juga bervariasi dan umumnya Sanskerta, Jawa Kuno, Sunda Kuna, dan Bali Kuna.


Baca Juga :